Membantu Walikota Pekanbaru menang Pilkada.

0 78

Catatan : *Zakirman Tanjung Wartawan Motivator*

Padang, TINTA RAKYAT – Bulan Januari 1996, saya melakukan perjalanan jurnalistik ke Provinsi Riau walau tanpa tujuan yang jelas. Meskipun demikian, saya tetap meminta surat pengantar kepada Pemimpin Redaksi Surat Kabar Mingguan Canang, Inyiak Nasrul Siddik, yang ditujukan kepada Ketua PWI Cabang Riau.

Pagi hari sesampai di Pekanbaru, saya langsung menemui Pak Rida K Liamsi yang waktu itu jadi Ketua PWI Riau. Berdasarkan surat pengantar yang saya serahkan, ia menerbitkan surat rekomendasi yang menerangkan bahwa saya melakukan tugas jurnalistik selama satu bulan di Provinsi Riau yang waktu itu masih mencakup Kepri.

Dengan mengantongi surat itu, saya bebas bertugas di provinsi tersebut. Dari Kantor PWI, saya nyasar ke DPRD Kota Pekanbaru di Gedung Payung Sekaki. Di sini saya memperoleh informasi, sedang berlangsung pengumpulan surat aspirasi organisasi masyarakat berupa dukungan kepada calon Walikota Pekanbaru periode 1996 – 2001.

Dari bursa yang diberitakan Harian Riau Pos, saya ketahui, walikota yang sedang menjabat (incumbent) Oesman Efendi Apan menempati urutan ke-13 dalam perolehan dukungan aspirasi. Nomor satu Anwar Rahman, adik Sekwilda Riau. Surat dukungan untuk Oesman sebenarnya sangat banyak, berkarung-karung, tetapi tidak dianggap oleh Panitia Pemilihan Walikota di DPRD Pekanbaru. Setelah saya pelajari, saya tahu penyebabnya.

Kemudian saya mencari tempat bermalam. Ketemu Penginapan Asia di Pasar Pusat dengan sewa Rp2.500/malam. Setelah menyimpan tas pakaian, saya ke luar, menyusuri jalanan tanpa arah dan tujuan. Maklum, sebelumnya saya baru sekali ke Pekanbaru, itupun ke rumah famili di Jalan Taskurun, tak jauh dari Terminal Bus Mayang Taurai.

Sesampai di Jalan Imam Bonjol, saya dengar suara percakapan dengan logat Pariaman di Kedai Kopi 45. Mampir, saya memesan kopi dan sate sembari menguping pembicaraan orang-orang. Mereka membahas tentang Pak Wali yang tidak mendapat dukungan.

Saya pun ikut nimbrung, tentunya dengan memperkenalkan diri sebagai Wartawan Canang dari Padang. Waktu itu Koran Canang beredar luas di Pekanbaru dan Batam. Saya mengemukakan analisa mengapa Pak Oesman kurang dapat dukungan sebagaimana dirilis Koran Riau Pos.

Seorang tokoh, Napoleon – asal Sakarek Ulu, Pariaman Utara – tampak tertarik. Ia mengaku sangat dekat dengan Pak Walikota, menanyakan apakah saya dapat membantu. Saya jawab dapat, dengan syarat pertemukan saya dengan walikota. Napoleon menyatakan bersedia.

Menjelang senja ia datang menjemput saya ke Penginapan Asia, lalu menuju rumah dinas walikota di Jalan Ahmad Yani, tak jauh dari mapolresta. Sayangnya, Pak Wali tak di rumah. Ia pergi ke bandara, menyambut kedatangan Jenderal pertama Riau, Asospol Kasospol ABRI Brigjen TNI Syarwan Hamid.

Menunggu hampir satu jam, Pak Wali pulang dan menerima saya. Kepadanya saya nyatakan, ratusan surat aspirasi yang dikirim tim-nya. Kentara benar rekayasanya, karena dibuat di atas kertas yang di-blangko.

Ketika ia bertanya, bantuan apa yang dapat saya berikan. Saya minta tiga hal, kamar hotel yang representatif, staf kepercayaan dia minimal tiga orang, mesin ketik sebanyak mungkin dan biaya operasional.

Malam itu saya pindah ke kamar hotel dan langsung bekerja. Lima staf yang datang besok paginya, saya beri penugasan masing-masing. Dua orang mencari kertas dan amplop ber-kop organisasi kemasyarakatan sebanyak mungkin. Kalau tak ada, cetak. Tiga lagi jadi asisten saya untuk mengetik dan tugas lainnya seperti membelikan makanan atau minuman.

Dengan beragam letter tuts mesin tik dan gaya bahasa yang saya dikte-kan, kesan rekayasa pada surat-surat aspirasi dimaksud takkan tampak. Setiap beberapa surat selesai diketik, kedua staf lainnya saya suruh meminta tandatangan pengurus organisasi, lalu mengantarkan ke DPRD. Begitu seterusnya.

Siangnya, saya bertemu dengan Kabag Humas Setdako Pekanbaru di sebuah resto ikan patin di kawasan bandara guna wawancara dan menyerahkan dokumen apa saja tentang keberhasilan Oesman lima tahun memimpin Kota Pekanbaru. Wawancara dan dokumen itu saya perlukan sebagai bahan untuk menulis laporan bertajuk “Lima Tahun Kepemimpinan Walikota Pekanbaru Oesman Effendi Apan” yang diturunkan redaksi menjadi 2x sambungan di halaman 3 Surat Kabar Mingguan Canang.

Laporan itu kemudian diprotes Pak Nusyirwan, koresponden/kepala Biro Canang Riau. Ia protes ke Inyiak karena saya ke Pekanbaru tidak melapor kepadanya. Belakangan saya tahu, Pak Nusyirwan berseberangan dengan Walikota Oesman.

Setelah tiga hari saya bekerja siang dan malam bersama staf, posisi Oesman Effendi Apan naik ke peringkat pertama pada bursa aspirasi Riau Pos. Saya pun pamit ke Pak Oesman, menyatakan hendak terus ke Batam dan Vietnam. Beliau memberi saya tanda terimakasih berupa segepok uang (saya lupa jumlahnya).

Menyeberang ke Batam via Pelabuhan Tanjung Buton, banyak hal pula yang saya alami dan dapatkan. Saya bebas masuk ke Gedung Otorita, Bea Cukai dan lain-lain. (AS)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

Do NOT follow this link or you will be banned from the site!