Muhammadiyah Padang Pariaman, Dulu dan Sekarang.

Oleh : DR(c) Fakhri Zaki, SE.MM. *)

0 91

Tinta Rakyat – Muhammadiyah didirikan oleh KH. Ahmad Dahlan pada tanggal 8 Zulhijjah 1330 H, atau 18 November 1912 M di Jogyakarta. KH. Ahmad Dahlan dilahirkan tahun 1868 M di Jogyakarta, waktu kecil ia mengaji di pesantren menurut sistem lama. Melanjutkan pelajarannya ke tanah suci Mekah, kemudian pulang ke tanah air.

Mula-mula ia menjadi pegawai Masjid Sultan. Pernah berniaga di Jakarta, Surabaya bahkan sampai ke Medan. Sambil menambah ilmunya kepada ulama-ulama serta memperhatikan keadaan kaum muslimin disana, kemudian ia mengajar di pesantrennya sendiri. Usaha dakwahnya antara lain ; Mengubah dan membetulkan arah kiblat. Mengajarkan dan menyiarkan agama Islam di Pesantren. Memberantas bid’ah-bid’ah dan kurafat serta adat istiadat yang bertentangan dengan ajaran Islam.

KH. Ahmad Dahlan termasuk salah seorang ulama pembaruan (modernis) di Indonesia. Muhammad Al Bakiy menyebut bahwa murid-murid (kader) Jamaluddin Al-Afgani di berbagai negara, termasuk DR. Abdul Karim Amrullah di Sumatera dan KH. Ahmad Dahlan di pulau Jawa.

Muhammadiyah adalah organisasi yang bersifat modern, yang bercirikan organisasi sosial, pendidikan dan keagamaan. Bertujuan memurnikan ajaran Islam bersumber pada Al-Quran dan Al-Hadist, tindakannya adalah amar makruf nahi mungkar atau mengajak hal yang baik dan mencegah hal yang buruk.

Sebelum Muhammadiyah masuk dan berkembang di Padang Pariaman, Muhammadiyah telah masuk di Minangkabau. Sejalan dengan masuknya paham pembaruan (tajdid dan fi Al-Islam) yang dipelopori oleh DR. Abdul Karim Amrullah (ayah Buya Hamka). Pembaruan dimulai melalui pendidikan. Tahun 1914, DR. Abdul Karim Amrullah yang dikenal dengan Haji Rasul, mengadakan pendidikan klasikal, yatu Sumatera Thawalib Padang Panjang. Yang diadakan di Surau Jembatan Besi Padang Panjang. Kemudian diikuti pula oleh surau-surau lain di Minangkabau, dengan merubah sistem cara lama menjadi sistem klasikal (modern).

Pada tahun 1926, Muhammadiyah berdiri di Padang Panjang kemudian berdiri pula di berbagai pelosok di Minangkabau. Muhammadiyah Minangkabau yang ketika itu dipusatkan di Padang Panjang, mengusahakan pendirian berbagai sekolah sesuai dengan tujuan Persarikatan.

Berdirilah sekolah-sekolah Muhammadiyah di Kauman Padang Panjang diantaranya ; Bustanul Anfal, INS, Tabligh School, Tsanawiyah, Kulliyatul Muballighin, Kulliyatul Muballiqhat, MualliminUlya, Fakultas Hukum dan Falsafah, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Fakultas Ushuluddin, Pondok Pesatren, SD, SMP dan SMA.

Fakultas Falsafah dan Hukum disesuaikan pada tanggal 18 November 1955, ditanda tangani oleh Ketua Umum PB Muhammadiyah, Buya AR. Sutan Mansur. Dalam catatan sejarah inilah lahir Fakultas Muhammadiyah pertama di Indonesia.

Perkembangan yang pesat Muhammadiyah di Minangkabau, disebut oleh Prof.DR. HM Din Syamsuddin sebagai Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah ketika itu. Muhammadiyah dilahirkan di Jogyakarta, tetapi di besarkan di Minangkabau.

Masuknya Muhammadiyah ke Padang Pariaman, juga bersamaan dengan masuknya paham pembaharuan ke Padang Pariaman. Menurut Kasim Munafi salah seorang tokoh penting Padang Pariaman, dalam otobiografinya dijelaskan. Bahwa Muhammadiyah masuk ke Padang Pariaman (Kurai Taji) pada tanggal 29 Oktober 1929. Diawali dengan perjalanan H. Sidi Mohd Ilyas ke Jogyakarta untuk mempelajari Muhammadiyah. Kemudian, beliaulah yang disebut sebagai motor penggerak Muhammadiyah bersama sahabatnya Oedin dan Syailendra.

Gerakan Muhammadiyah di Kurai Taji ini, didukung oleh ulama-ulama muda lainnya. Seperti Ustadz Muar Pauh, Harun Maari, Abdul Jalil, St, Harun Parel, Abu Bakar Maruf, Muhammad Maruf, Haji Lau. Semuanya merupakan murid Tuangku Adnan (Tuangku Hitam Ketek) yang berasal dari suku Koto Sunur. Dua orang tokoh Aisyiyah asal Pariaman, cukup diperhitungkan di Wilayah (Wilayah Aisyiyah) Sumatera Barat. Yakni Umi Hj. Syamsinar (pendiri Rumah Sakit Aisyiyah Padang/pernah anggota DPRD Kota Padang dan One Hj. Syarifah Dinar (Ketua PWA Sumbar). Disamping itu, Buya H. Harwil Maany pernah menjadi Ketua PWM Sumatera Barat periode 1962-1964. Tak asing lagi dua tokoh kawakan tingkat Wilayah, yakni Buya H. Sd. M.Ilyas dan Buya Oedin.

Dikalangan pemuda tampil Samaun Bakri dan wanita tampil pula Hajjah Jawanis Syarif, ibunda Tarmizi Taher (Menteri Agama RI di Era Orde Baru). Samun Bakri akhirnya diangkat sebagai Wakil Residen di Banten, sedangkan Jawanis Syarif menjadi Muballigh aktif di Aisyiyah Sumatera Barat, memimpin PKU (RS Aisyiyah Padang Panjang).

Muhammadiyah Padang Pariaman yang berpusat di Kurai Taji, membentuk Cabang dan Ranting dalam Daerah Padang Pariaman. Termasuk sebagian Daerah Kabupaten Agam sekarang, seperti Gasan, Tiku, Manggopoh, Lubuk Basung, Batu Kambing.

Di Kurai Taji Pariaman itu, berkantorlah Muhammadiyah Padang Pariaman, baik Pimpinan Daerah maupun Ortom-Ortom dari Muhammadiyah. Disana juga didirikan sekolah-sekolah Muhammadiyah, seperti MDA Muhammadiyah, TK Aisyiyah, Mualimin Muhammadiyah, kemudian berubah menjadi PGA Muhammadiyah, kemudian berubah lagi menjadi MtsM dan Aliyah Muhammadiyah.

Untuk pengkaderan ulama dan Zuamma, didirikanlah sebuah perguruan yang diberi nama Perguruan Ulama Zuamma tahun 1962, setingkat Aliyah/SLTA, muridnya berasal dari daerah Padang Pariaman, Sumatera Barat dan dari luar daerah. Salah seorang muridnya Zulfisyukur berasal dari Palembang terakhir mengabdi di DDII Pusat Jakarta.

Diantara alumni perguruan Muhammadiyah Kurai Taji termasuk perguruan Ulama Zuamma, adalah Tukar Bantaruddin, menyelesaikan pendidikannya di Timur Tengah. Beliau mengabdi di Muhammadiyah Pusat dan Bendahara PP. Muhammadiyah periode 1995-2000, hasil Muktamar ke 43 di Aceh.

Prof. DR. H.Nasroen Haroen, MA, dosen IAIN Imam Bonjol, pernah menjabat Direktur Pasca Sarjana Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat, Direktur Zakat dan Ketua MUI Sumatera Barat dan banyak lagi dan banyak lagi tamatan perguruan Muhammadiyah Kurai Taji, yang menyelesaikan pendidikannya di Mesir, Syria, Libia, dan daerah Timur Tengah lainnya.

Tahun 1967 perguruan Ulama Zuamma ditutup. Tahun 1976 didirikan perguruan Tinggi Ulama Zuamma Muhammadiyah Kurai Taji, yang dipimpin (ketua) H. Haroen L Maany, Sekretaris Sukri Umar merangkap sebagai tenaga pengajar. Perguruan ini pun tidak lama berjalan.

Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) Padang Pariaman yang tidak kalah pentingnya adalah, berdirinya Rumah Sakit Aisyiyah Pariaman dan Asrama Anak Yatim di Kurai Taji. Kemudian, Panti Asuhan Putri di Kampung Perak Pariaman dan Gedung Dawah Aisyiyah di Rawang Pariaman.

Muhammadiyah Padang Pariaman Sekarang.

Dengan masuknya Kurai Taji ke Kota Pariaman, otomatis Kurai Taji menjadi wilayah Kota Pariaman dan secara administratif keorganisasian, semua Amal Usaha Muhammadiyah Kota Pariaman. Kecuali amal usaha, baik bidang Pendidikan dan lain-lain yang ada di Ranting atau Cabang dalam wilayah Padang Pariaman.

Pengurus Daerah Muhammadiyah (PDM) Padang Pariaman, sebenarnya tidak kalah dengan PDM lainnya di Sumatera Barat. PDM memiliki amal usaha seperti Rumah Sakit Aisyiyah Pariaman yang pembangunannya dilakukan bersama-sama umat (Parsyarikatan Muhammadiyah-Aisyiyah) Kabupaten dan Kota, ketika itu PDM dipimpin oleh Buya Drs. H. Jauhar Muis, (sebelum terpisah Kota dan Kabupaten).

Saat ini, Amal Usaha PDM Padang Pariaman mempunyai 3 Panti Asuhan, 3 MtsM dan 3 TK ABA, serta punya mesjid dan mushalla Muhammadiyah. Dan lembaga-lembaga pendidikan, rumah sakit dan amal usaha lainnya yang berada di kota Pariaman, tidak lagi dalam lingkungan pengawasan Muhammadiyah Padang Pariaman secara organisasi. Karena, lokasinya terletak di Kota Pariaman. Sehingga, menjadi aset Muhammadiyah yang di kelola oleh PDM Kota Pariaman.

Muhammadiyah Padang Pariaman sampai saat ini memiliki 10 Cabang, dari sebelumnya 8. Dan 45 Ranting dari sebelumnya 38, beserta 8 Ortom yang sebelumnya 5, satu yang belum terbentuk yakni Ortom Hizbul Wathan. Sedangkan Lazismu sudah ada, namun belum jalan. Keberadaan Amal Usaha Muhammadiyah, seyogyanya dapat membantu secara financial Persyarikatan Muhammadiyah itu sendiri

Semangat Ke-Muhammadiyahan Padang Pariaman.

Sejak Muhammadiyah lahir sampai di era reformasi dan globalisasi sekarang, semangat menggerakkan Muhammadiyah tak pernah mundur agar tercapai tujuan Muhammadiyah. Yaitu Menjunjung Tinggi Agama Islam, sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenarnya.

Pengurus Muhammadiyah pun menyadari, bahwa banyak kaum muslimin yang secara organisatoris belum atau tidak didaftar sebagai anggota, akan tetapi ikut berperan dalam menggerakkan Muhammadiyah. Seperti Syekh H. Abdul Karim Amrullah Inyiak dari ayahanda Buya Hamka dan Mertua Buya AR. Sutan Mansur, M. Natsir yang secara organisatoris juga tidak menjadi anggota Muhammadiyah, tapi perjuangannya sepaham dan sejalan dengan pergerakan Muhammadiyah.

Tokoh-tokoh dan kaum muslimin di tingkat lokal Padang Pariaman, baik yang ada di kampung halaman maupun di luar (perantauan) berpotensi sekali untuk ikut serta dalam membangun Muhammadiyah dari dulu, kini dan insyaAllah dimasa datang.

Pimpinan Daerah Muhammadiyah Padang Pariaman DR (c) Fakhri Zaki, SE, MM. merajut kembali potensi-potensi tersebut dan mengadakan beberapa kali pertemuan. Baik dengan sesepuh Muhammadiyah, maupun Pimpinan Daerah Muhammadiyah, Aisyiyah maupun Ortom lainnya. Untuk membicarakan tentang Muhammadiyah dan perkembangan kedepannya.

Akhirnya muncul beberapa pokok fikiran yaitu : Membangun Gedung Muhammadiyah Center Padang Pariaman atau Pondok Pesantren Modern.

Langkah-langkah kedepan yang dianggap penting, antara lain adalah :

Mengusahakan adanya sebidang tanah yang luasnya lebih kurang 1 Hektar menjadi milik Muhammadiyah Padang Pariaman. Alhamdulillah, telah tersedia tanah seluas 1 Ha, milik keluarga Muhammadiyah. Yang berlokasi di Kudu Ganting Kecamatan V Koto Kabupaten Padang Pariaman, akan dijual kepada Muhammadiyah Padang Pariaman seharga Rp. 200.000,-/meter.

Korong Pasa Balai Kudu adalah Ibu Nagari Kudu Ganting Kecamatan V Koto Timur.

Nagari Kudu Ganting letak geografisnya berada diantara 0,60 LS dan 100 BT, merupakan salah satu Nagari terluas yang posisinya berada di bagian Utara Kabupaten Padang Pariaman. Ketinggian Nagari Kudu Ganting berada pada 100-200 m dpl. Sehingga jauh dari resiko Tsunami, dengan suhu berkisar 25 C sampai dengan 30 C Iklim sedang. Permukaan tanah umumnya dataran, berbukit-bukit dan berlembah. Secara administratif luas Nagari Kudu Ganting adalah seluas 14.670 Ha.

Semangat tersebut, disokong oleh Pimpinan Daerah dan Ortom serta anggota jamaah, ketika disampaikan pada acara wirid Muhammadiyah di Masjid Taqwa Paguh hari Ahad tanggal 16 Februari 2020, dengan Penceramah Buya Abdul Salam, S.Ag, M.Hi sebagai Ketua Majelis Dawah Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sumatera Barat. Pada intinya, beluau sangat setuju rencana mendirikan “Pondok Pesantren Modern Kauman Al-Fikriyah” Muhammadiyah Padang Pariaman tersebut. Dalam komplek Pondok Pesantren tersebut, dibangun kantor-kantor sesuai kebutuhan organisasi, klinik, koperasi dan sebagainya. (AS)

*) Ketua Muhammadiyah Kabupaten Padang Pariaman, Komisioner BAZNAS Padang Pariaman dan Dosen STIE Sumbar Pariaman.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

Do NOT follow this link or you will be banned from the site!