MEMBANGUN MASYARAKAT SIAGA BENCANA SECARA MANDIRI.

Penulis : Ali Januar *)

0 59

Padang, Tinta Rakyat – Dengan kondisi wilayah yang cukup luas, dari Sabang sampai Merauke dan terdiri dari ribuan pulau. Kebetulan atau tidak, Indonesia terletak di perbatasan lempeng Eurasia dengan lempeng Australia. Hal ini menjadikan beberapa daerah di Indonesia, sering diguncang oleh gempa bumi tektonik akibat dari pergeseran kedua lempeng tersebut. Dengan demikian, disadari atau tidak, kita tinggal di daerah yang rawan terjadinya gempa bumi.

Gempa bumi merupakan fenomena alam yang berpotensi menjadi bencana, bila terjadi dengan kekuatan berskala besar. Sementara itu, karakter dari gempa bumi adalah tidak dapat diprediksi tanda-tanda awalnya, tidak dapat diprediksi kapan waktunya dan juga tidak bisa diprediksi dimana terjadinya serta kekuatannya. Hal ini menyebabkan, peristiwa gempa bumi bisa terjadi kapan saja, di mana saja dan dengan kekuatan berapa saja.

Berangkat dari pengalaman peristiwa gempa bumi dan tsunami di Aceh pada tahun 2006 dan di Padang tahun 2009, mengingatkan kita bahwa Pemerintah “lupa” memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang bencana. Selama ini, pendapat dan pemahaman yang ada di masyarakat adalah bencana itu takdir. Seolah-olah tidak ada yang bisa kita lakukan, kecuali hanya menerima saja apapun yang terjadi.

Sehingga, setelah peristiwa yang memilukan itu terjadi. Membuat pemerintah gencar memberikan pelatihan, agar masyarakat sedikit demi sedikit bisa mengubah pemahaman dan pandangannya. Bahwa bencana itu dapat dikelola, untuk menekan jumlah korban yang mungkin bisa terjadi. Dengan kata lain, gempa bumi menjadi potensi bencana besar yang bisa menelan banyak korban. Apabila kita tidak melakukan upaya, untuk mengurangi jumlah korban dan terhadap resiko lainnya yang akan terjadi.

Keterlibatan masyarakat dalam kegiatan ini, akan menjadi sangat penting. Karena apabila terjadi bencana, Pemerintah tidak mungkin menjangkau semua wilayah yang ada di Indonesia. Untuk itu diperlukan kelompok masyarakat atau komunitas kebencaan, yang akan melakukan penyuluhan dan edukasi tentang kebencanaan khususnya mitigasi. Kelompok dan komunitas kebencaan ini, telah dibekali oleh pemerintah dengan berbagai materi dan bahan yang akan disampaikan kepada masyarakat. Yaitu keluarga yang tinggal di daerah rawan bencana, seperti di bantaran sungai dan daerah pesisir pantai.

KEGIATAN MITIGASI BENCANA.

Upaya untuk mengurangi risiko dan menjadi korban akibat bencana, biasa dikenal dengan kegiatan mitigasi bencana. Bila mengacu pada siklus manajemen bencana, kegiatan mitigasi dilakukan sebelum terjadi gempa bumi. Kegiatan yang bisa dilakukan adalah, dengan memberikan penyuluhan kepada masyarakat.

Kegiatan ini, memiliki fokus pada upaya pemahaman tentang antisipasi bencana. Khususnya, bencana gempa bumi melalui jalur formal (melalui sekolah). Tujuan kegiatan ini adalah, untuk membantu para guru di sekolah dasar dalam upaya menyelamatkan para siswa, apabila terjadi gempa bumi pada jam sekolah. Karena bagaimanapun ketika berada di sekolah, anak-anak adalah tanggung jawab para guru. Para siswa sejak dini sudah dikenalkan, bahwa ada peristiwa alam yang disebut gempa bumi. Dan gempa bumi itu berpotensi menjadi bencana yang bisa menelan korban, baik korban materi maupun jiwa.

Dengan demikian, para siswa mampu melakukan tindakan penyelamatan diri yang tepat ketika terjadi gempa. Sehingga mereka tidak menjadi korban dari akibat gempa bumi. Kegiatan ini kemudian tidak hanya berfokus pada gempa bumi, namun juga tanah longsor, tsunami, banjir dan bencana lainnya. Sesuai dengan potensi yang dimiliki oleh suatu daerah, melalui kegiatan intrakurikuler di sekolah. Untuk mitigasi gempa bumi, para guru dan siswa dilatih untuk melakukan tindakan yang tepat pada saat terjadi gempa bumi. Dan melakukan evakuasi para siswa dari dalam kelas, ketika gempa bumi sudah reda.

Ketika semua gerakan dilakukan bersama-sama dan mengerucut pada satu tujuan yang sama. Diharapkan akan mampu menyadarkan masyarakat, betapa pentingnya pemahaman tentang gempa bumi. Dalam kegiatan ini, masyarakat diajak berbagi untuk melihat tanda-tanda awal gempa bumi, mencari daerah aman baik di dalam maupun di luar ruangan. Melakukan tindakan yang tepat, saat gempa bumi terjadi, dan melakukan evakuasi ke tempat yang aman bila gempa sudah reda. Dengan demikian, masyarakat menjadi tidak panik ketika terjadi gempa bumi dan bisa terhindar dari korban akibat gempa bumi.

Setelah melakukan kegiatan mitigasi bencana gempa bumi, ada satu hal yang dirasa sangat penting yaitu membentuk masyarakat yang siaga bencana mandiri. Masyarakat terdiri dari keluarga-keluarga, oleh karena itu keluarga menjadi sasaran pokok untuk membentuk masyarakat yang siaga bencana. Perumusan Family Disaster Planing (FDP) menjadi sangat penting, karena bila semua keluarga sudah siaga bencana secara langsung, akan membentuk juga masyarakat yang siaga bencana.

Kegiatan FDP yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut :
– Mengkonstruksi rumah yang tahan gempa bumi pada skala tertentu;
– Menginventarisasi kebutuhan keluarga bila terjadi gempa bumi;
– Menyiapkan tas siaga (3 buah) dan penanggungjawabnya; yang berupa tas punggung yang berisi: (1) Tas 1: surat-surat penting (ijazah, transkrip, akta tanah, BPKB, premi asuransi, uang tunai, dll). (2) Tas 2: Pakaian dalam, T shirt, handuk , sarung, dll. (3) Tas 3: Makanan kering dan air minum dalam kemasan;
– Memahami tanda-tanda bahaya yang disepakati dalam suatu daerah tertentu;
– Memahami letak tempat evakuasi dan jalan tersingkat untuk menuju ke tempat evakuasi;
– Melatih diri dengan ketrampilan dasar P3K.

Sedangkan untuk tingkat kelompok masyarakat, misalnya level RT/RW. Harus ada personil yang ditugaskan untuk memimpin, apabila terjadi gempa bumi dan bencana yang lain. Tugas ini tidak harus menjadi beban pemimpin formal (Ketua RT/RT/Kelurahan), namun bisa diambil dari anggota masyarakat yang disepakati.
Tugas Kelompok Penanggulangan Bencana level ini, antara lain:

1. Menyiapkan tanda bahaya yang disepakati dan mensosialisasikannya kepada seluruh masyarakat.
2. Menyiapkan tempat evakuasi dan melengkapinya dengan sarana dan prasarana yang diperlukan (tenda, genset dan lampu-lampu, bahan makanan kering, air minum dalam kemasan, peralatan masak, dll).
3. Menginventasisasi potensi warga dalam hal keahlian misalnya dokter, perawat,instalasi listrik, tukang masak.
4. Menginventarisir sarana yang diperlukan misalnya kendaraan, alat komuniksi, alat P3K, dll.

Bahan makanan yang disimpan, tentu ada masa kadaluwarsanya. Untuk mengantisipasi hal ini, ada banyak langkah yang dapat dilakukan. Apabila makanan tersebut sudah dekat dengan masa kedaluarsa. Maka, dapat dimasak dan dimakan bersama. Sekaligus untuk bersyukur, karena tidak terjadi gempa bumi dan bencana lainnya. Kemudian, bahan makanan tersebut diganti dengan yang baru, demikian seterusnya.

Kemudian secara periodik misalnya 3 atau 6 bulan sekali, diadakan pelatihan mitigasi bencana. Untuk memastikan, apakah alat tanda bahaya berfungsi dengan baik dan meningkatkan tindakan reflek dari warga jika terjadi bencana. Sehingga masyarakat sudah paham apa yang harus mereka lakukan, bila mendengar bunyi tanda bahaya tersebut. Demikian salah satu cara yang bisa ditempuh oleh pemerintah, untuk membangun masyarakat yang siaga bencana secara mandiri.

Kemandirian ini penting, agar mereka tidak selalu menggantungkan diri kepada Pemerintah bila terjadi bencana. Hal ini, tentunya juga akan meningkatkan harkat dan martabat masyarakat itu sendiri. Selama ini, kita sering melihat siaran di televisi yang diliput dari daerah yang sedang mengalami bencana. Yang menonjol untuk ditayangkan adalah, adanya warga yang hanya bisa mengeluh memohon bantuan dan kelambatan pemerintah dalam membantu para korban. Mengapa hal ini tidak kita ubah menjadi siaran yang berisi kegiatan masyarakat yang mandiri, mampu menekan jumlah korban. Dengan membiarkan peristiwa gempa bumi menjadi fenomena alam biasa dan tidak berubah menjadi bencana. Sudah saatnya, masyarakat tidak lagi menggantungkan nasibnya kepada Pemerintah. Yang sudah pasti akan membantu dan melakukan kegiatan pasca bencana, sesuai dengan standar dan prosedur yang ada.

PERAN KELOMPOK SIAGA BENCANA.

Sekarang, kita diminta menyiapkan diri secara mandiri jika terjadi bencana. Diketahui, Kota Padang dan kota-kota lainnya di pulau Sumatera secara umum, merupakan daerah yang sangat rawan terjadi bencana terutama gempa bumi. Baik gempa tektonik maupun vulkanik dapat terjadi kapan saja, yang disebabkan patahan lempeng di dasar laut maupun akibat letusan gunung api.

Karena itu, tertumpang harapan kita kepada Kelompok Siaga Bencana (KSB) dan lembaga kebencanaan lainnya yang sudah dibentuk pada daerah-daerah yang rawan bencana. Bagaimana mereka bisa berkolaborasi dengan pihak terkait, untuk melakukan edukasi dan fasilitasi tentang mitigasi bencana seluruh lapisan masyarakat masyarakat. Melalui diskusi kelompok dan simulasi yang dilaksanakan secara berkala, masyarakat memahami segala resiko yang akan dihadapi bila bencana itu datang. Secara fisik dan mental mereka sudah siaga menghadapi bencana, dan dapat melakukan mitigasi secara mandiri tanpa menunggu bantuan pemerintah.

Sebagaimana diketahui, ada sebanyak 104 Kelompok Siaga Bencana di Kota Padang dan sebanyak 7 Kecamatan dan 69 Kelurahan berada di wilayah pesisir. Daerah ini merupakan zona merah gempa dan tsunami, karena berada langsung di bibir pantai. Melalui tulisan ini penulis berharap, keseriusan Pemerintah Kota Padang dan Provinsi Sumatera Barat dalam menyikapi hal ini. KSB yang telah terbentuk di setiap kelurahan, menunggu komando dari pemerintah untuk melakukan apa yang bisa disampaikan kepada masyarakat dan keluarga di wilayahnya. Peran aktif Pemerintah dalam berbagi terhadap peningkatan dan penguatan kapasitas, tentu sangat diharapkan oleh KSB. Sehingga terwujudnya ketahanan masyarakat dan kemandirian keluarga dalam mengurangi resiko bencana yang akan terjadi.

Semoga tulisan yang dihimpun dari berbagai sumber ini, bisa menjadi inspirasi bagi kita semua. Terutama untuk memuliakan diri sendiri pada saat terjadi bencana. Dengan menjadi pribadi yang tangguh dan keluarga yang siaga secara mandiri, disaat datangnya bencana. InshaAllah. Bravo KSB Kota Padang.
Salam tangguh. (AS)

*) Ketua Kelompok Siaga Bencana Kota Padang.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

Do NOT follow this link or you will be banned from the site!