Ekowisata Green Talao Park

Catatan : Tomi Dt. Tanbijo *)

0 153

Ulakan, Tinta Rakyat – Green Talao Park disingkat GTP adalah sebuah kawasan wisata alam atau destinasi ekowisata berbasis ekosistem pesisir, yang beralamat di Nagari Ulakan, Kecamatan Ulakan Tapakih, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat.

GTP mengelola lebih kurang 15 hektar kawasan pesisir, yang terdiri dari kawasan mangrove (mayoritas ditumbuhi jenis Nipah), kawasan talao, dan kawasan pantai. Kawasan ini merupakan tempat hidup beragam satwa.

Kawasan ekowisata pesisir berkonsep edukasi dan konservasi ini, dibangun atas inisiasi, prakarsa, semangat kerjasama dan kebersamaan seluruh elemen masyarakat yang ada di Nagari Ulakan.

Inisiasi membangun GTP, berangkat dari kesadaran beberapa pemuda setempat. Setelah melihat potensi kawasan pesisir yang ada di nagari mereka. Kawasan hutan nipah, talao dan pantai yang selama ini dibiarkan adalah aset. Ini duit.

Destinasi wisata alam, yang belakangan viral dan ramai dikunjungi ini. Pertama kali diinisiasi oleh masyarakat, melalui komunitas pemuda lokal pada tahun 2016, melalui pemanfaatan dana nagari sebesar Rp200 juta.

Dana nagari sebesar itu, dimanfaatkan untuk membangun jalan setapak. Sebagai jalur untuk bisa mengakses masuk ke dalam kawasan hutan Nipah, yang tumbuh lebat dan kawasan talao dan lokasinya dekat dengan pantai.

Berkat dukungan pemerintahan nagari, ninik mamak dan seluruh elemen masyarakat. Komunitas pemuda yang ditunjuk sebagai pelaksana, terus berupaya melengkapi fasilitas yang dibutuhkan.

Tahun 2019, pengembangan GTP mendapat suntikan pembiayaan dari pemerintah pusat, melalui Kementerian Desa (Kemendes) dengan nama program Pilot Inkubasi Inovasi Desa Pengembangan Ekonomi Lokal (PIID-PEL).

Total dana APBN yang digelontorkan untuk mendukung program PIID-PEL di Nagari Ulakan mencapai Rp1,3 miliar. Program dilaksanakan oleh masyarakat setempat, dengan pendampingan tim ahli.

Dana bantuan Kemendes dimanfaatkan secara maksimal, untuk membangun berbagai fasilitas pendukung wisata kawasan GTP. Termasuk membangun jalur trekking sepanjang 1,8 kilometer, gerbang, dan gazebo.

Selain untuk pembangunan fisik, dana bantuan juga dimanfaatkan untuk program pelatihan, peningkatan dan pengembangan kapasitas sumber daya manusia (SDM) masyarakat, termasuk SDM komunitas pengelola GTP.

Peningkatan kapasitas SDM adalah upaya mensinergikan pembangunan fisik dan mental pelaku wisata lokal, yang merupakan modal dasar pembangunan pariwisata berbasis masyarakat (Community Based Tourism).

Di tahun 2019, pembangunan berbagai fasilitas pendukung pengembangan kawasan wisata GTP dikebut pengerjaannya, pada awal tahun 2020 semua pekerjaan sudah bisa diselesaikan. Wajah kawasan langsung berubah total.

Kawasan Nipah, talao, dan pantai yang dulu berupa hutan tak bertuan, dan hanya beberapa orang (paling pencari Lokan, atau pencari Nipah) yang berani mengakses, lalu berubah jadi indah disentuh pembangunan.

Jalur jembatan trekking dibuat meliuk-liuk menerobos hutan Nipah yang selama ini tak terjamah, dan tembus ke Talao di dekat pantai. Di beberapa titik dibangun gazebo dan menara pantau untuk melihat kawasan dari ketinggian.

Kawasan ini benar-benar berubah. Hutan Nipah, talao, pantai yang awalnya kurang bernilai, kini berubah menjadi sesuatu yang sangat bernilai. Bukan saja nilai ekonomi, juga dari nilai estetika dan penyelamatan lingkungan.

Begitulah roh pengembangan wisata berbasis alam atau wisata ekologi, melalui konsep ekowisata. Ada dua manfaat sekaligus didapat. Manfaat ekonomi dan manfaat lingkungan. Alam terjaga, uangpun mengalir.

GTP yang belum genap berusia satu tahun, setidaknya telah membuktikan dampak dan manfaat dari pengembangan destinasi wisata alam berkonsep ekowisata. GTP hadir dengan visi wisata edukasi dan konservasi.

Belum genap satu tahun dibuka untuk umum -resmi dibuka Juni 2020-, destinasi ekowisata GTP Ulakan telah dikunjungi oleh lebih dari 72 ribu pengunjung. Sebuah angka kunjungan yang sangat fantastis.

Dari jumlah kunjungan sebanyak itu, pengelola GTP tahun 2020 mencatatkan pendapatan mencapai Rp420 juta dari restribusi. Itu baru pendapatan pengelola GTP, belum lagi pendapatan yang didapat masyarakat sekitar.

Secara ekonomi, pengembangan kawasan GTP sangat menjanjikan. Berbekal fasilitas dan atraksi yang masih minim, baru enam bulan beroperasi (Juni-Desember 2020), sudah mampu membukukan pendapatan Rp420 juta.

Pendapatan itu tentu bisa lebih ditingkatkan lagi jadi berkali lipat, bila fasilitas pendukung (amenitas) dilengkapi. Termasuk merancang kegiatan (atraksi) yang menarik, sebagai penambah daya tarik kawasan GTP.

Sebagai salah seorang Inkubator program, penulis optimis destinasi ekowisata Green Talao Park (GTP) Nagari Ulakan akan tumbuh menjadi sebuah destinasi wisata alam berbasis pesisir yang cukup diperhitungkan di Sumbar.

Dengan harapan, kehadiran destinasi ekowisata GTP akan menjadi lokomotif sekaligus pusat kegiatan ekonomi, yang diharapkan mampu mendorong dan menggerakkan pertumbuhan ekonomi masyarakat dan daerah sekitar.

Pembangunan pengembangan kawasan GTP, dilaksanakan berdasarkan dokumen perencanaan yang disusun berdasarkan data dan kajian yang jelas, dan terukur. Kawasan dibagi menjadi beberapa zonasi.

Antara lain, zona inti untuk konservasi berupa kawasan ekosistem mangrove. Kawasan ini dijaga dan dilindungi. Pemanfaatannya sangat terbatas. Diperuntukkan hanya bagi kegiatan wisata berbasis pendidikan dan penelitian.

Ada zona pemanfaatan berkelanjutan. Kawasan alam yang dimanfaatkan sebagai pendukung kegiatan/atraksi wisata yang sifatnya sangat terbatas, diharapkan wisata kelas semi premium. Fasilitas pendukung dibatasi.

Kemudian ada zona pemanfaatan umum. Kawasan ini disiapkan sebagai lokasi berbagai fasilitas pendukung kawasan (amenitas) berupa lahan parkir, gerbang, warung, ruang serba guna, wahana permainan, dan lain sebagainya.

Zonasi atau pembagian kawasan dalam pengembangan wisata berbasis alam atau ekowisata, merupakan hal yang sangat penting. Dengan adanya zonasi, diharapkan tak terjadi tumpang tindih kepentingan pemanfaatan.

Zonasi menggambarkan secara jelas, mana kawasan yang dilindungi, dan hanya bisa dimanfaatkan secara terbatas, mana kawasan yang boleh dimanfaatkan secara berkelanjutan, dan mana kawasan untuk diekplor.

Sistem zonasi memudahkan pengelola dalam menata aktivitas wisata dalam kawasan, termasuk memudahkan rencana pengembangan kedepan. Kawasan yang tertata dengan baik adalah daya tarik bagi tamu.

Mengingat pengembangan Green Talao Park Nagari Ulakan adalah destinasi berkonsep ekowisata, dengan misi edukasi dan konservasi. Artinya, GTP berorientasi bukan profit semata, tapi juga berorientasi pada perlindungan alam.

Selamat kepada masyarakat Nagari Ulakan. Salam semangat buat para inisiator dan pengelola GTP, BUMNag, Pokdarwis Nagari Ulakan. Salam hormat buat para pegiat yang jadi inkubator GTP.

‘Ketika pohon terakhir ditebang,
Ketika sungai terakhir dikosongkan,
Ketika ikan terakhir ditangkap,
Barulah manusia akan menyadari bahwa dia tidak dapat memakan uang’ (Eric Weiner)

*) Wartawan, Pemerhati Pariwisata dan Lingkungan.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

Do NOT follow this link or you will be banned from the site!