Dalam Rangka Memeriahkan Hari Jadi Ke-133, Dinas Kebudayaan Peninggalan Bersejarah dan Permuseuman Kota Sawahlunto Gelar Perlombaan Bahasa Tangsi.

0 3

Sawahluhto, Tinta Rakyat – Dalam rangka menyambut Hari jadi Kota Sawahlunto yang ke-133 (1888 – 2021) pada tanggal 1 Desember 2021, Dinas Kebudayaan Peninggalan Bersejarah dan Permuseuman Kota Sawahlunto menyelenggarakan berbagai rangkaian kegiatan. Salah satunya adalah Lomba Tonil Bahasa Tangsi sebagai bentuk usaha pelestarian dan regenerasi dari keberadaan tradisi yang sudah menjadi salah satu bentuk budaya yang mengakar di kota Sawahlunto.

Bahasa Tangsi, merupakan bahasa persatuan kaum buruh Tambang yang terdiri dari Orang Rantai, Kuli Kontrak, Buruh Bebas dan berbagai aktifitas Profesi lain pada umumnya tumbuh dan di gunakan sebagai bahasa sehari-hari dikawasan komplek perumahan buruh Tambang sejak dari jaman Kolonial Belanda di antaranya komplek Tangsi Rantai (Kampung orang rantai), Tangsi Baru Tanah Lapang, Tangsi Baru Durian, Tangsi Durian, Tangsi Gunung Air Dingin, Tangsi Gunung Durian, Sungai Durian dan lainnya.

“Kemana aja ke ndak ketok-ketok”. Itulah sekilas bentuk ungkapan kalimat dari Bahasa Tangsi, bahasanya kaum buruh Tambang yang tercipta dari percampuran lebih kurang 10 dialek bahasa yaitu: Jawa, Sunda, Madura, Bali, Bugis, Batak, China, Minangkabau, Belanda, dan Melayu sebagai bahasa dasar sejak dari awal aktivitas eksplorasi dan eksploitasi Batubara di Kota yang berjuluk Kota Warisan Dunia, Ombiin Coal Mining Heritage of Sawahlunto.

Bahasa Kreol pertama di Indonesia tersebut juga telah di tetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia pada tanggal 10 Oktober 2018.

Kepala seksi sejarah dan Nilai Budaya Kota Sawahlunto, Desrifahmi, S.Pd.M.Pd, mengatakan. Bahwa kegiatan Lomba Tonil Bahasa Tangsi ini diselenggarakan guna mensosialisasikan dan juga sebagai salah satu bentuk proses regenerasi dari keberadaan warisan budaya itu sendiri.
Yang mana para peserta lomba banyak yang berasal dari kalangan pelajar SLTP, SLTA dan Mahasiswa.

Dalam Lomba ini fokus penilaian adalah pada kosa kata dan pengucapan /pelafalan. Sehingga nantinya pemenang lomba merupakan kelompok yang benar-benar menuturkan logat bahasa tersebut dalam bentuk murni nya, bukan bahasa Tangsi yang di buat-buat atau penggunaan kosa kata baru. Yang pastinya bukan berasal dari bahasa Tangsi awal.

“Kami berharap kedepannya penggunaan Bahasa Tangsi ini mulai dilirik di dunia pendidikan. Khususnya di kota Sawahlunto sebagai muatan lokal atau kegiatan ekstra kurikuler, sehingga nantinya dapat terbentuk kelompok-kelompok penutur aktif yang di akomodir dengan perlombaan serupa untuk melestarikan salah satu kekayaan Budaya di Kota Sawahlunto ini,” kata Desri Fahmi, Rabu (24/11). Di Museum Gudang Ransum saat kegiatan berlangsung.

Pada lomba tersebut dihadirkan tim penilaian yang mengerti dan paham dengan Bahasa Tangsi tersebut.
Diantaranya, terdiri dari : Adrial (salah satu penulis kamus Bahasa Tangsi), Purwoko (tokoh dan penutur bahasa tangsi) dan Episalwati (penutur dan penggiat bahasa tangsi).

Lomba yang berlangsung di pelataran Museum Goedang Ransoem kota Sawahlunto ini, di ikuti oleh 8 kelompok peserta. Pada acara itu, disaksikan oleh Pemkot Sawahlunto serta masyarakat setempat yang ingin mengetahui bahasa Tangsi sambil bernostalgia mengenang kejayaan Tambang Batubara Ombilin di masa lalu. (D/Nr)

Banner Slider

20210620_193725 (1)
20210228_064733
IMG-20210227-WA0041
20210620_200827
20210809_222909
IMG-20210809-WA0042
IMG-20210809-WA0041
20210620_193725 (1) 20210228_064733 IMG-20210227-WA0041 20210620_200827 20210809_222909 IMG-20210809-WA0042 IMG-20210809-WA0041

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More