ISTIMEWA DAN BIASA SAJA

Catatan : Riri Satria *)

0 55

TINTA RAKYAT – Ketika seorang sahabat mengunjungi kota Padang untuk pertama kalinya, dia begitu antusias berfoto-foto di Pantai Padang, terutama saat sunset. Saya yang lahir dan besar di Padang, saat itu berpikir, apa istimewanya ya pemandangan ini? Rasanya kok biasa-biasa saja? Lalu saya teringat ketika pertama kalinya ke Jakarta sekitar 35 tahun, yang lalu. Betapa antusiasnya saya berfoto di tugu Monas, dengan berbagai gaya. Mungkin Om saya yang tinggal sehari-hari di Jakarta pun berpikir, apa istimewanya ya foto-foto di Tugu Monas? 

Begitulah, ternyata istimewa atau biasa itu lebih banyak tergantung kepada persepsi, bukan kepada obyek itu sendiri. Obyeknya sih tetap, tetapi menurut persepsi si A itu adalah istimewa, sementara menurut si B itu biasa-biasa saja. Kalau berdebat, kedua orang ini bisa-bisa tidak mencapai kata sepakat. Kecuali kalau keduanya memiliki rasa empati dan paham posisi temannya, terhadap obyek tersebut. Sesuatu yang istimewa dulunya, lama-lana kok terasa jadi biasa? Padahal obyek itu tidak berubah. Rupanya persepsi pikiran kita terhadap obyek itu yang berubah.

Jadi, apakah yang menentukan itu istimewa atau tidak? Ternyata adalah unsur keterkejutan atau surprising effect, atau ada juga yang menyebutnya “wow effect”. Sesuatu yang mengejutkan dan memberikan rasa kagum, akan dianggap istimewa.

Apakah yang dapat menimbulkan keterkejutan? Ternyata ada tiga, yaitu (1) kelangkaan (scarcity), (2) keterbaharuan (novelty), serta (3) melawan arus (anti-mainstream). Ketiga hal ini sangat berpotensi untuk menimbulkan “wow effect”.

Ketimbang menunggu orang yang merasa “wow” ketika melihat kita, mengapa kita tidak mencoba untuk membuat diri kita “wow” terlebih dahulu? Kita dapat membuat diri kita menjadi begitu istimewa.

Jadi, apa yang membuat diri kita bisa istimewa? Ya ketiga hal itu tadi. Pertama, jadikanlah kita sosok yang langka, baik secara kompetensi, kinerja, pemikiran, atau juga mungkin penampilan di lingkungan kita. Kedua, selalu perbaharui kompetensi, kinerja, penampilan, bahkan gagasan-gagasan baru yang inovatif. Ketiga, jangan takut untuk melawan arus, jangan takut untuk menjadi tidak biasa alias harus percaya diri, atau berbeda pendapat dengan banyak orang selama kita punya alasan yang kuat untuk itu.

Tentu saja semua, sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai dan dalam koridor-koridor yang diyakini. Keistimewaan itu, akan selalu ada jika dijaga dengan berbagai gagasan-gagasan baru. Timbulnya pemikiran yang membuat obyek itu terlihat langka, baru, dan unik. Begitu juga dengan diri kita.

Jadi, setiap kita bisa bisa menjadi sosok istimewa kok. Jangan terjebak kepada perangkap rasa inferior atau rendah diri. Mungkin Anda merasa diri Anda biasa-biasa saja, tetapi di mata orang lain, bisa jadi Anda begitu istimewa.

Rendah hati itu baik, tapi rendah diri itu hindari. Yakinlah, selalu ada sesuatu yang akan membuat Anda itu istimewa, tinggal menemukannya saja.

Salam sukses selalu semuanya..!

*) Pengamat ekonomi digital dan ekonomi kreatif, dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, Komisaris Jakarta International Container Terminal.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

Do NOT follow this link or you will be banned from the site!